3. Kamu kurang meluangkan waktu bareng keluarga saat ramadan dan lebaran.
Mungkin kamu jadi salah satu orang yang belum punya kesempatan untuk menjalani ramadan dan lebaran bareng keluarga. Nggak cuma kurang menjalin komunikasi, kamu juga sering terlalu larut dalam kesibukan sendiri sampai lupa kalau kehadiranmu sangat mereka rindukan.
Memang betul, nggak ada orang yang ingin tetap bekerja saat libur lebaran. Di satu sisi kamu juga nggak bisa mengubah kondisi. Tapi ‘kan menjalin komunikasi saat ini nggak melulu harus bertemu langsung. Satu pesan singkat darimu sebenarnya udah cukup untuk melegakan hati mereka. Malah lebih bagus kalau sehabis kerja, kamu meluangkan waktu untuk menelepon atau video call.
Tapi kamu nggak melakukan itu. Ucapan selamat hari raya darimu pun terkesan seperti formalitas belaka. Kalau kamu masih bertanya-tanya kenapa setiap lebaran terasa gini-gini aja dan kurang bermakna, mungkin penyesalan satu ini yang harus kamu tebus tahun depan.
4. Memilih mudik di hari H lebaran untuk menghindari kemacetan
Lagi-lagi rencanamu meleset. Ternyata nggak cuma kamu yang mikir kalau mudik di hari H lebaran akan terbebas dari macet. Beribu-ribu pemudik lainnya pun memikirkan hal yang sama. Alhasil, kalian bertemu di jalan raya padat merayap, jauh dari kata lengang seperti yang diharapkan.
Sejujurnya ini bukan fenomena baru. Hampir setiap tahun, puncak arus mudik lebaran terjadi sekitar H-1 dan hari H lebaran. Karena kurang jeli membaca situasi, waktumu jadi banyak terbuang di jalan. Bukannya melepas rindu dengan keluarga, kamu malah stres sendiri menghadapi kemacetan yang nggak ada ujungnya itu.
Padahal bisa aja di waktu yang sama kamu udah makan kue nastar sambil ngobrol bareng keluarga andai dari awal lebih berhati-hati mengambil keputusan.
5. Melontarkan pertanyaan basa-basi yang bikin risih saat kumpul keluarga
Lebaran seketika berubah jadi momen penghakiman saat salah satu anggota keluarga mulai merasa berhak melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menyinggung ranah pribadi. Awalnya mungkin hanya untuk basa-basi karena udah lama nggak bertemu, tapi ‘tradisi’ itu yang membuat banyak orang harus menyiapkan mental baja setiap kali lebaran tiba.
Alih-alih menyiapkan mental, kamu justru jadi penyebab orang-orang itu was-was saat kumpul keluarga. Kamu jadi sosok yang sangat dihindari oleh mereka yang nggak ingin kehidupan pribadinya dicampuri. Kamu bisa aja berdalih hanya ingin memulai obrolan. Namun nyatanya, topik yang kamu singgung sama sekali nggak membuat suasana lebaran jadi bermakna.
Dengan kamu menyesal telah melontarkan pertanyaan basa-basi kurang penting itu, berarti kamu punya kepekaan yang cukup tinggi terhadap respons mereka. Mulai sekarang, kamu harus belajar memahami bahwa ada banyak topik yang menarik untuk diobrolkan selain mengulik kenapa keponakanmu belum menikah atau kapan mbak yang satu itu berniat menambah momongan.
Penyesalan memang nggak akan mengubah kenyataan yang udah terjadi. Namun, fakta bahwa kamu merasa bersalah ketika melakukan lima hal di atas berarti masih ada harapan untuk menjalani ramadan dan lebaran yang lebih baik di tahun depan.
Memang nggak ada yang tahu apakah masih bisa dipertemukan lagi dengan bulan suci berikutnya. Meskipun begitu, jangan putus asa ya! Ayo mulai sekarang perbaiki lagi sehingga saat ramadan tiba, kamu nggak mengulangi kesalahan yang sama.
No comments:
Post a Comment