Pada tahun 1879 adalah tahun yang sangat penting dalam sejarah psikologi. Pada tahun inilah Wundt mendirikan laboratorium psikologi yang pertama kali di Leipzig, Jerman yang dianggap sebagai pertanda berdiri sendirinya psikologi sebagai ilmu yang terpisah dari ilmu-ilmu induknya (filsafat dan faal). Pada tahun ini pula, Wundt memperkenalkan metode yang digunakan dalam eksperimen-eksperimen, yaitu metode introspeksi.
Wundt kemudian dikenal sebagai seorang yang menganut strukturalisme karena ia mengemukakan suatu teori yang menguraikan struktur (susunan, komposisi) dari jiwa. Wundt juga dikenal sebagai seorang penganut elementisme, karena ia percaya bahwa jiwa terdiri dari elemen-elemen. Ia pun dianggap sebagai tokoh asosiasionisme, karena ia percaya bahwa asosiasi adalah mekanisme yang terpenting dalam jiwa, yang menghubungkan elemenelemen kejiwaan satu sama lainnya sehingga membentuk satu struktur kejiwaan yang utuh.
Ajaran-ajaran Wundt ini kemudian disebarluaskan ke Amerika Serikat oleh E. B. Titchener (1867 – 1927). Akan tetapi tidak dapat respon positif karena orang Amerika terkenal Pengantar Psikologi | 13 praktis dan pragmatis. Teori ini tidak diterima karena dianggap terlalu abstrak dan kurang dapat diterapkan secara langsung dalam kenyataan. Sarjana psikologi di Amerika kemudian membentuk aliran sendiri yang disebut fungsionalisme dengan tokoh-tokohnya antara lain William James (1842 – 1910) dan J. M. Cattel (1866 – 1944). Sesuai dengan namanya aliran ini lebih mengutamakan mempelajari fungsi-fungsi jiwa daripada mempelajari strukturnya. Aliran ini kemudian yang akan menjadi peninggalan penting dalam psikotes yang banyak digunakan pada berbagai setting kehidupan.
Psikotes ini merupakan teknis evaluasi psikologi oleh J. M. Cattell. Namun demikian aliran fungsionalisme ini pun juga masih dikritik di Amerika Serikat. Hal ini disebabkan karena dianggap masih terlalu abstrak. Golongan terkahir ini menghendaki agar psikologi hanya mempelajari hal-hal yang benarbenar objektif, karena itu mereka hanya mau mengakui tingkah laku yang nyata (dapat diukur dan dapat dilihat) sebagai objek psikologi. Pandangan ini dipelopori oleh J. B. Watson (1878 – 1958), dikembangkan selanjutnya oleh tokoh-tokoh antara lain E.C. Tolamn (1886 – 1959) dan B. F. Skinner (1904 – 1990). Sementara itu, di Jerman sendiri ajaran-ajaran Wundt mulai mendapat kritik dan koreksi. Salah satu murid Wundt, O. Kulpe (1862 – 1915), adalah salah satu yang kurang puas dengan ajaran Wundt dan memisahkan diri dari Wundt untuk 14 | Pengantar Psikologi mendirikan aliran sendiri di Wurzburg.
Aliran ini yang kemudian dikenal sebagai aliran Wurzburg menolak anggapan Wundt bahwa berpikir itu selalu berupa image (bayangan dalam alam pikiran). Menurut Kulpe, pada tingkat berpikir yang lebih tinggi apa yang dipikirkan itu tidak lagi berupa image, sehingga Kulpe mengemukakan bahwa ada pikiran yang tak berbayangan (imageless thought). Reaksi lain terhadap Wundt di Eropa datang dari aliran Psikologi Gestalt. Aliran ini menolak ajaran elementisme dari Wundt dan berpendapat bahwa gejala kejiwaan (khususnya persepsi, karena inilah yang banyak diteliti oleh aliran ini) haruslah dilihat sebgai keseluruhan yang utuh, yang tidak terpecah-pecah dalam bagian-bagian dan harus dilihat sebagai suatu “Gestalt”. Tokoh-tokoh dari aliran ini adalah M. Wertheimer (1880 – 1943), K. Kofka (1886 – 1941) dan W. Kohler (1887 – 1967). Aliran Gestal berkembang lebih lanjut. Antara lain dengan melalui tokoh bernama Kurt Lewin (1890 – 1947), yang membawa aliran ini ke Amerika Serikat, berkembang aliran baru yang dinamakan Psikologi Kognitif. Aliran ini merupakan perpaduan antara aliran behaviorisme yang pada tahun 1940- an itu sudah ada di Amerika Serikat dengan aliran Psikologi Gestalt yang dibawa oleh K. Lewin. Aliran ini menitikberatkan pada proses-proses sentral (misalnya: sikap, ide, harapan) untuk mewujudkan tingkah laku.
No comments:
Post a Comment